• Hubungi kami

    082218491226

  • Email kami

    humas.sekolahkader@gmail.com

Dalam sejarah kita menyaksikan bagaimana agama seringkali berhubungan dengan gerakan sosial politik dan protes sosial. Banyak pula kenyataan yang menunjukkan kecenderungan bahwa gerakan keagamaan sebagai jubah bagi kegiatan oposisi politik. Kecenderungan-kecenderungan mendasar lainnya dari gerakan keagamaan adalah mendorong gerakan-gerakan ini untuk mengembangkan orientasi politik yang lebih ekstrim dan muncul sebagai gerakan politik yang radikal. Makna simbolik agama merupakan salah satu aspek penting yang sering dipakai untuk menggerakkan dan menggelorakan rakyat. Seperti sebutan “kafir” untuk lawan politik yang berbeda agama atau keadaan sosial yang buruk yang diakibatkan oleh kekuasaan “asing”.

Radikalisme politik sering menjadi gejala yang mengiringi gerakan-gerakan keagamaan, begitu pula sebaliknya, ide-ide dan simbol simbol agama sangat efektif dalam menyentuh hati rakyat yang sebagian besar bersifat religius dalam alam pikirannya. Bahkan beberapa tahun terakhir berbagai konflik agama dan etnik minoritas sudah sampai ditahap yang tidak manusiawi dalam ukuran apapun sehingga menimbulkan berbagai krisis dan mengancam integrasi bangsa.

Idelogi partai yang awalnya meletakan  Pancasila sebagai dasar dari Ideologi partai mulai bergeser demi meraih sebuah kekuasaan sehingga rela menggunakan politik identitas seperti suku dan agama, hingga menggunakan media media sosial sebagai alat untuk membentuk citra diri dan alat untuk menjatuhkan lawan politik lewat berita-berita hoax.

Hoax menjadi sesuatu yang begitu mudah disebar akhir-akhir ini secara masif. Hoax biasanya berisi berita yang tidak benar dan selalu mengarah kepada tujuan yang tidak baik seperti fitnah, menjatuhkan lawan yang belum tentu dapat dipertanggung jawabkan kebenaran dari berita itu sendiri.

Mengapa hoax dan ujaran kebencian dapat begitu mudah tersebar? Pengguna media sosial cenderung berinteraksi dengan orang yang memiliki ketertarikan yang sama dengan diri sendiri, ditambah lagi dengan kecepatan dan sifat media sosial yang mudah dibagikan (shareability), dua hal inilah yang mengakibatkan hoax dan ujaran kebencian dapat dengan mudah dan cepat tersebar di media sosial. Bahayanya adalah ketika hoax dan ujaran kebencian disebar secara masif dalam jumlah yang banyak maka berita berita yang tidak benar pun akan menciptakan opini sebaliknya, sebuah ketidak benaran jika terus-menerus di sebarkan akan menjadi sebuah kebenaran.

Generasi Millennial adalah terminologi generasi yang saat ini banyak diperbincangkan oleh banyak kalangan di dunia diberbagai bidang, Generasi Millenial ( Generasi Y) adalah kelompok demografis (cohort) setelah Generasi X. Peneliti sosial sering mengelompokkan generasi yang lahir diantara tahun 1980 an sampai 2000 an sebagai generasi millennial. Jadi bisa dikatakan generasi millennial adalah generasi muda masa kini yang saat ini berusia dikisaran 15 – 34 tahun.

Generasi ini adalah generasi yang berbeda dengan generasi X yang identik dengan etos kerja yang tinggi, mandiri, dan mampu menjadi pemimpin yang baik, namun kurang bisa beradaptasi dengan perubahan sedangkan generasi milenial adalah generasi yang berpikiran terbuka, mudah beradaptasi, melek teknologi.

Lalu apa peran generasi milenial dalam melawan berita hoax dan ujaran kebencian? Kita semua sadar bahwa cyber war hanya akan dimenangkan oleh mereka yang memiliki konten terbanyak. Maka dari itu generasi milenial (kita khususnya) dapat melakukan beberapa hal diantaranya:

  1. Buatlah sebanyak mungkin konten, berita, info yang positif dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
  2. Rutinlah membaca berita dari sumber-sumber yang stabil dan terpercaya. Biasakan untuk membaca sebuah berita hingga selesai dan mencari kebenaran dari berita itu sendiri sebelum membagikannya kembali di media sosial. Jangan mudah percaya dan membagikan kembali suatu berita tanpa terlebih dahulu mencari tahu kebenarannya. Bijaklah dalam menggunakan sosial media

Sebagai generasi milenial Kristen, kita harus memiliki filter yang sangat kuat untuk tidak menyebarkan berita hoax seperti yang ditulis dalam Keluaran 23:1 (ILT) “Engkau jangan membawa berita kesia-siaan; engkau jangan menaruh tanganmu bersama orang jahat, untuk menjadi saksi kejahatan.

Selamat melawan hoax dan ujaran kebencian..!


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *